Segerombol Peraba Rumput

Alhamdulillah, hari ini aku kembali berusaha menceritakan pengalamanku. Kali ini bercerita mengenai rumput. Sadar atau tidak sadar, hal sepele itu bisa saja menjadi besar dan bermakna bila kita mengenali lebih dalam suatu objek. Teman kelasku bilang, aku adalah orang yang kurang kerjaan dan juga alay. Yahh... boleh saja, silahkan berpendapat sesuka kalian. Tapi, jangan bilang kalian juga menikmati karya-karyaku ini :v

Hari yang lalu, posting mengenai Mati lampu dan Purnama dan juga pernah posting mengenai Semut Tetangga. Judul-judul tersebut bagi saya adalah biasa. Namun, seperti yang saya katakan tadi bermakna bila dikenali. Seperti halnya dengan rumput, ada apa dengan rumput?? Kurang kerjaan yang mas meraba rumput?? Mungkin itu sindiran halus lagi yang saya terima di kelas.

Kalau kalian berkunjung ke sekolahku, yakni SMA NEGERI 1 Bajeng maka kalian akan mendapati padang rumput yang berada di sebelah timur sekolah dan di belakang Lab.Biologi. Memang sangat indah, apa lagi kalau dalam bidikan kamera pasti tambah indah, kecuali kalau kamera efek full  :D

Oke, ada yang bertanya apa itu peraba rumput. Yah.. saya jawab orang yang memegang rumput lah, hehehe :) Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya saat melakukan praktek Biologi mengenai Seleksi Alam. Jujur, ini adalah praktek yang sangat menyenangkan dan juga berkesan. Saat pertama, kami disuruh membawa potongan kertas empat warna masing-masing 100. Patok kayu, tali rafia dan alat tulis. Sepintas, kalian juga bertanya, aku mau praktek apa. Begitu pula aku, saat pertama mendengar alat dan bahan yang dibawa, sekelebat aku mengenyitkan kening pertanda heran. 

Ada satu kejadiaan lucu pada saat hari prakteknya. Teman kelompokku menugaskan aku membawa patok kayu. Guru biologi tidak menyebutkan panjang patok kayu yang harus dibawa. Jadi, karena sebelumnya pernah melihat patok yang panjangnya 1 meter, maka aku juga membuat patok yang panjangnya 1 meter. Kebayangkan panjangnya seperti apa?? Karena terlalu panjang, jadi bingung bagaimana cara membawanya ke sekolah. Pagi hari, jam hampir menunjukkan jam 7.15 yang merupakan pukul dimana gerbang sekolah ditutup. Malu membawanya, jadi lewat di jalan yang cukup jauh tapi penduduk di sepanjang jalan kurang. 

Itulah saat aku dan teman kelompokku sedang praktek mengenai seleksi alam. Caranya mudah sekali, cukup menebar potongan kerja 4 warna yang ada pada daerah tertentu yang dibatasi patok dan tali rafia. Lalu mencomotnya satu per satu dalam waktu 1 menit dan 5 kali pengambilan. Seru kan?? Pasti seru dong.. ini namanya belajar sambil bermain. Lewat praktek seperti ini, kita cukup paham mengenai teori Seleksi Alam. 

Baiklah teman, seleksi alam mengajarkan bahwa yang bertahan hidup adalah orang yang mampu bertahan hidup. Simple kan?? Tapi mesti disadari, bahwa semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Jadi, tunggu saja jadwal kematian kita yang telah ditentukan oleh Sang Kuasa.

Dari rumput kita mempelajari dua sifat. Penurut dan tidak mendendam. Pertama adalah penurut. Pernah tidak kalian melihat bagaimana angin berhembus di sekitar rumput lalu rumput mengikuti arah angin. Itu adalah penurut. Selalu mengikuti apa yang diperintahkan walaupun terkadang rumpuh rebah karena angin kencang. Kedua, adalah tidak pendendam. Kalian pernah menginjak rumput? Apakah rumput pernah membalas? Tidak kan? Begitulah rumput. Walaupun disiksa namun tak pernah membalasnya, malah makin memperlihatkan pesona hijaunya di pekarangan sekitar.


Di atas yang saya maksud sebagai sebagian kecil dari peraba rumput, maksudnya meraba mencari ilmu mengenai seleksi alam :D Alhamdulillah, prakteknya selesai. Terima kasih pula kepada ibu Ratna, S.Pd atas dedikasi ilmunya selama di kelas XII ini.

Comments

  1. Bajeng itu kota mana za?... heee belajar dari sifat rumput bagus juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bajeng itu sebuah kecamatan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

      Delete
  2. Keren mantap. Lanjutkan nak mbahe bangga hehehe

    ReplyDelete
  3. patut ditiru ini, jadilah pelajar yang baik

    ReplyDelete
  4. bagus pengalamannya dalam memahami alam

    ReplyDelete
  5. Pengalaman memang hal unik untuk ditulis. Namun, perlu ada beberapa poin penting sehingga pembaca tidak terlalu sudah memahami maksud tujuan

    ReplyDelete

Post a Comment