Semut Tetangga

Setelah beberapa lama tidak memosting sesuatu di blog, kita aku kembali dengan sebuah judul yang aneh. Orang akan merasa bingung apa yang ingin aku sampaikan pada post kali ini. Yang terpenting sih, maksud hati hanya ingin menebarkan inspirasi. Karena inspirasi bisa datang kapan saja dan dimana saja.

Aku juga merasakan hal yang sama, entah apa yang ingin aku sampaikan pada post ini. Semut? Mengapa harus semut? Ide ini aku dapatkan saat ibuku melihat semut yang datang dari rumah tetangga. Ide itu terus terngiang dalam benakku hingga aku menuankannya dalam tulisan ini. Ibuku adalah tipe orang yang sangat membenci semut. Kalau melihat semut, ibuku tak segan menyiramnya dengan minyak tanah hingga seisi ruangan bau minyak tanah. Aku juga orang yang jengkel bila digigit semut. Pasalnya bukan main, kulit bentol-bentol lebih parah dengan digigit nyamuk kala mati lampu. Hehehe :D

Aku ingin berbagi kisahku pagi ini. Tadi subuh, aku bangun jam 5.30. Sudah dua hari ini aku bangun terlambat sehingga tidak sempat shalat subuh di masjid. Sebenarnya pagi itu aku terbangun saat alarmku berbunyi, tapi di masjid belum adzan. Kuputuskan untuk tidur sedikit, alhasil adzan berbunyi dan aku masih sempat mendengarnya. Karena adzannya terlalu lama ditambah godaan yang entah datang bertubi-tubi aku tertidur lagi hingga jam 5.30. 

Lalu, seperti anak muda zaman sekarang yang tiap pagi selalu cek media sosial. Mataku tak berhenti dimanjakan dengan facebook dan Whatsapp. Hingga lupa kalau hari ini hari senin. Aku pun bergegas ke sekolah.

Hidup ini bagai perjalan seekor semut. Panjang dan melelahkan, namun akhir yang sangat nikmat jikalau kita bersyukur. Seekor semut dapat membangun istana yang megah di bawah tanah ataupun pepohonan. Semua itu berkak kerja keras dan rasa empati sesamanya. Bisa dikatakan semut adalah percontohan kehidupan sosial yang sangat kompleks.

Begitu pula dengan yang kualami hari ini. Di luar prediksiku, ternyata kelasku (XII IPA 6) mendapat juara umum 2 PORSENI 2016 SMA Negeri 1 Bajeng. Padahal prediksi awal juara umum 3, sesuai yang dikatakan seorang pengurus OSIS saat pulang dari Pao Tombolo. Sejak awal PORSENI, kelasku adalah kelas yang adem-adem, biasa saja, flat dan tidak bergairah dalam mengikuti PORSENI. Pertama, saat Defille teman kelasku yang ikut hanya  15  orang dari 43 siswa. Baju yang dipakai sangat sederhana, yakni baju PORSENI setahun yang lalu :D. Kedua, paling menegangkan kalau adu mulut sebelum lomba. Nah, ini yang seru :D Karena kurang semangat seperti yang tadi saya katakan, jadi gitu deh saling tunjuk menunjuk teman agar ikut lomba. Tapi hasilnya sangat memuaskan. Dua kali berturut-turut juara umum dua. Hehehe... walaupun juara umum dua #YangPentingDuaKaliJuaraUmum 

Hidup ini dinamis teman, kita takkan menduga apa yang akan terjadi pada diri kita, keluarga dan teman kita. Kita ibarat perjalan seekor semut dari rumah tetangga lalu menyeberang ke rumah kita. So, jangan hanya tinggal diam. Bergeraklah secara sadar. Maka kamu akan temukan keajaiban dalam hidupmu. Lihat, bagai seekor semut berjuang mencari setetes air, sebutir gula untuk hidupnya. Kita juga sama, tapi bukan hanya makanan. Bisa jadi ilmu, rezeki, dan kebahagiaan dunia dan Akhirat.

Comments

  1. sangat menarik.... dan tentunya sangat menginspirasi..
    kita bisa belajar dari hal2 yang biasa kita anggap sepele..
    teruslah berkarya...
    semangat kaka☺😊😉

    ReplyDelete
  2. Ane suka dengan cara penulisannya, mudah dimengerti dan dipahami apalagi kata-katanya ngak terlalu formal, jadi masih bisa dimengerti orang awam.
    FYI: Ditunggu artikel tentang motivasi selanjutnya ya "Hidup ini bagai perjalan seekor semut. Panjang dan melelahkan, namun akhir yang sangat nikmat jikalau kita bersyukur."

    ReplyDelete

Post a Comment