3 Tingkatan, 3 Karakter yang Berbeda

Kali ini mau curhat lagi mengenai perubahan diriku pada saat masa SMA. Aku merasa bagai metamorfosis kupu-kupu yang berubah sesuai dengan fasenya. Begitu pula denganku. Tiga tingkatan kelas, aku merasa banyak sekali perubahan dalam hidupku ini. 

Pertama, kita akan membahas pada saat kelas X. Ini adalah fase pertamaku memasuki masa SMA. Bisa dibilang peralihan dari masa SMP labil ke SMA. Saya ceritakan sedikit mengenai kisahku     pada saat masih kelas X. Aku adalah siswa program bebas tes di SMA Negeri 1 Bajeng. Hal aneh yang pertama yang aku alami pada saat pertama masuk di SMA adalah tersesak di jurusan IPA (dulu namanya MIA) padahal di angket saya tulis juruaan IPS (dulu namanya IIS). Tapi, semua itu sudah ada dalam kehendakNya. Untungnya aku masuk jurusan IPA. Kebetulan juga suka dengan Matematika. Dari sinilah, aku mulai menyukai pelajaran Kimia.

 Oke, mengenai karakterku di kelas X. Aku adalah anak yang lugu, polos, dan belum mampu beradaptasi dengan lingkungan remaja yang sesungguhnya. Sifatku masih kekanak-kanakan. Aku juga adalah pribadi yang sangat pemalu. Sebenarnya kalau guru bertanya, aku tahu jawabannya tapi malu untuk menjawabnya. Sifat pemaluku juga membuat aku kurang bergaul dengan kelas lain. Itulah mengapa aku kurang terkenal di lingkungan SMA Negeri 1 Bajeng. Sifat polosku juga nampak dari foto pada saat kelas X yang sangat tak tahu bergaya alias mati gaya. Setiap kali melihat foto kelas X, terkadang terkekeh juga sih melihatnya. Tapi ada untungnya juga sih jadi anak polos. Itu membuatku jadi siswa yang dekat dengan guru. 

Kedua pada saat kelas XI. Ini tingkatan yang paling berkesan dalam hidupku. Bagaimana tidak? Entah roh apa yang merasuki diriku sehingga berubah menjadi seorang yang alay + lebay. Buktinya setiap tempat yang kudatangi selalu saja selfie dulu. Bahkan dalam rumah pun suka sekali selfie :D

Bisa dibilang juga kelas XI ini, pertama kalinya menginap di rumah teman untuk mengerjakan tugas. Pernah juga sih waktu SMP, tapi bukan untuk kerja tugas melainkan persiapan lomba keesokan harinya. Saat kelas XI itu saya ditunjuk jadi ketua kelas karena ketua kelas yang dulu jadi ketua OSIS. Makanya kesibukanku bertambah. 

Semua foto selfie pada saat kelas XI masih tersimpan di memori eksternal ponselku. Itu memenuhi sekitar 70% galeri fotoku. Bisa dibayangkan betapa alaynya aku dulu. Hal yang paling berkesan dalam hidupku semasa kelas XI adalah membuat film berbahasa Inggris. Ini seru sekali. Penggarapannya pun memakan waktu 3 bulan baru selesai. Dulu kelompokku mengambil cerita rakyat Asal usul Banyuwangi. Ada satu scene yang paling lucu pada waktu itu. Di adegan terakhir seorang wanita harus meloncak ke laut. Tapi dalam drama kami, si wanita itu hanya meloncak ke sebuah genangan air yang ada di pinggir sawah. Itu pun saat melompat langsung dicut, agar si wanita itu tidak melompat beneran ke genangan air tersebut.

Hal yang paling berkesan selanjutnya adalah mengenai penggarapan tari kreasi. Jujur, satu kelas gagal melakukannya. Hal tersebut adalah hal yang sangat memalukan. Bagaimana tidak? Kami tampil di panggung yang ada di pinggir lapangan.

Ketiga adalah pada saat kelas XII, ini yang sekarang lagi OTW alias sementara sedang menjalaninya. Ini adalah fase transisi antara masa SMA dan Perguruan Tinggi. Itulah mengapa cara belajar kami sedikit berbeda dengan kelas X dan kelas XI. Itulah juga yang mempengaruhi sifatku yang cenderung menjelma menjadi sosok yang serius. Di kelas XII ini, aku sesekali mengulang pelajaran waktu di kelas XI dan X. Dari awal naik kelas XII aku sudah berkomitmen untuk lebih serius lagi dalam belajar. Apalagi sekarang memasuki semester akhir. Artinya banyak yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi. 

Di kelas XII, guru yang mengajar adalah guru yang terbaik yang memang mampu menangani kelas XII. Dari itu, banyak sekali tugas yang diberikan. Ceroboh sedikit, dapat membuat tugas menumpuk. Belum lagi kalau disuruh membuat makalah. Tapi, kelasku XII Ipa 6 adalah kelas yang solid. Setiap tugas pasti jawabannya sama semua. Jadi, kalau sumber salah maka satu kelas salah semua jawabannya. 

Aku juga orang yang sedikit pemarah, ya begitulah kalau ketua kelas mengarahkan anggotanya. Tapi, di balik marahku, aku masih punya hati yang lembut kok :D

Beginilah karakterku dari tiga tingkatan di SMA. Sungguh, benar kata orang. Masa SMA adalah masa yang takkan pernah dilupakan bagi semua orang. Di sinilah kita mencari jati diri kita sebenarnya. Cukup sekian kisahku, bila berkenan ayo ceritakan juga karaktermu di tiga tingkatan SMA di kolom komentar di bawah. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Related Posts:

1 Response to "3 Tingkatan, 3 Karakter yang Berbeda"

  1. Salah satu sifatku sama seperti agan sewaktu kelas X, yaitu pemalu. Sebenarnya pengen bgt merubah sikapku itu tapi masih bingung gan :( Bagaimana cara agan mengubah sifat agan yg pemalu itu ?

    ReplyDelete