Tradisi Royong Makassar
Sulawesi
Selatan merupakan salah satu provinsi di indonesia dengan tingkat keragaman
budaya yang tinggi. Salah satu kebiasaan menarik yang dilakukan para ibu
sebelum bayinya tertidur adalah melantunkan sebuah nyanyian dengan syair
tertentu yang disebut Royong.
Menurut Matthes, Royong adalah sejenis nyanyian untuk anak-anak kecil (bayi) yang marih berumur 40 hari. Melantunkannya tanpa diiringi musik, sambil bayi diayun-ayunkan perlahan sampai tidur terlelap. Royong merupakan sastra lisan yang konon bermula dari hadirnya Tumanurung di Tanah Gowa. Dayang-dayang Tumanurung yang diyakini sebagai pelantun Royong pertama, hingga kembali ke langit setelah kelahiran Karaeng Tamasalangga Baraya yaitu putra Sumber gambar: yang lahir dari perkawinan Tumanurung dengan Karaeng Bayo di Gowa.
Berdasarkan bunyi pertama, maka Royong ada yang disebut pajjapa daeng atau Turinanung, cuwi, dan kurru-kurru jangang yang bermakna bahwa umat manusia selalu melihat ke tempat yang tinggi.
Menurut Matthes, Royong adalah sejenis nyanyian untuk anak-anak kecil (bayi) yang marih berumur 40 hari. Melantunkannya tanpa diiringi musik, sambil bayi diayun-ayunkan perlahan sampai tidur terlelap. Royong merupakan sastra lisan yang konon bermula dari hadirnya Tumanurung di Tanah Gowa. Dayang-dayang Tumanurung yang diyakini sebagai pelantun Royong pertama, hingga kembali ke langit setelah kelahiran Karaeng Tamasalangga Baraya yaitu putra Sumber gambar: yang lahir dari perkawinan Tumanurung dengan Karaeng Bayo di Gowa.
Berdasarkan bunyi pertama, maka Royong ada yang disebut pajjapa daeng atau Turinanung, cuwi, dan kurru-kurru jangang yang bermakna bahwa umat manusia selalu melihat ke tempat yang tinggi.
Jika dibaca atau didengar secara
sekilas, kata-kata dalam naskah royong
umumnya tidak diketahui artinya, terutama bagi generasi muda karena kata-kata
tersebut sudah jarang didengar atau pun dipergunakan dalam bahasa percakapan
sehari-hari. Namun, jika naskah itu dibaca secara mendalam, royong tersebut dilantunkan dengan
maksud agar orang yang diroyongkan memeroleh keselamatan, kesenangan,
kesejahteraan dan ketentraman. Ada beberapa kalimat royong yang sudah didokumentasi karena royong adalah sastra lisan yang penyampaiannya secara ekslusif.
Ditakutkan royong akan punah bila
tidak didokumentasikan. Contohnya, Royong
appatinro anak, pakkiok sumangak, akbukbuk bunting, dll
Selain pengantar tidur, royong juga dilantukan pada pesta penyunatan (pasunakkang), perkawinan (pakbuntingang) atau pun pada acara akikah (pattompolang/anngalle areng). Khusus pada pesta adat, royong biasanya diiringi dengan alat musik tradisional, seperti anak baccing, kancing, curiga, gong, ganrang, puik-puik, dengkang, dll. Royong pada acara adat dilantunkan oleh orang yang sudah lanjut usia
Selain pengantar tidur, royong juga dilantukan pada pesta penyunatan (pasunakkang), perkawinan (pakbuntingang) atau pun pada acara akikah (pattompolang/anngalle areng). Khusus pada pesta adat, royong biasanya diiringi dengan alat musik tradisional, seperti anak baccing, kancing, curiga, gong, ganrang, puik-puik, dengkang, dll. Royong pada acara adat dilantunkan oleh orang yang sudah lanjut usia
Konon, Royong dapat menyembuhkan penyakit, menolak bala dan sebagainya.
Hal itu dikarenakan syair Royong
menyerupai sebuah do'a dan harapan kepada Yang Maha Kuasa. Untuk fungsi ini,
ada beberapa hal yang harus disiapkan, yakni:
1. Air putih 1 gelas
2. Tai bani (lilin berwarna merah)
3. Doe' ja'jakkang (uang hajatan)
4. Leko sikabba (daun sirih seikat)
5. Pa'dupa (tempat kayu bara untuk membakar kemenyan)
6. Kumangnyang (kemenyang)
7. Berasa si gantang (beras 1 liter)
8. Golla eja na kaluku (gula merah dan kelapa)
9. Kaeng kebo' (kain putih)
10. Tembako (tembakau)
2. Tai bani (lilin berwarna merah)
3. Doe' ja'jakkang (uang hajatan)
4. Leko sikabba (daun sirih seikat)
5. Pa'dupa (tempat kayu bara untuk membakar kemenyan)
6. Kumangnyang (kemenyang)
7. Berasa si gantang (beras 1 liter)
8. Golla eja na kaluku (gula merah dan kelapa)
9. Kaeng kebo' (kain putih)
10. Tembako (tembakau)
Dalam kaitannya dengan strata sosial
masyarakat Makassar, ternyata tidak semua lapisan masyarakat dapat diroyongkan. Dari 4 golongan (Sombayya,
Karaeng, Daeng/Tomaradekadan Ata) yang dapat diroyongkan hanya Sombayya, Karaeng dan Anak Tomaradeka.
Dari uraian tadi, dapat disimpulkan royong mempunyai fungsi, yakni:
1. Pengantar Tidur
2. Mengundang rezeki dan penolak bala
3. Pengesahan suatu adat
4. Media pendidikan budi pekerti atau pemahaman norma-norma kepada generasi penerus. Dengan demikian, sangat diharapkan agar generasi muda dapat mengkreasi royong dalam bentuk yang kreatif sehingga jenis sastra ini lebih menarik dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial.
1. Pengantar Tidur
2. Mengundang rezeki dan penolak bala
3. Pengesahan suatu adat
4. Media pendidikan budi pekerti atau pemahaman norma-norma kepada generasi penerus. Dengan demikian, sangat diharapkan agar generasi muda dapat mengkreasi royong dalam bentuk yang kreatif sehingga jenis sastra ini lebih menarik dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial.
Contoh
Royong:
"Ana'
tinro mako naung.. Pakaselaki matannu..
Mata
ta'do'do'.. pa'lungang manakku tommi..
I
Baso sallang lompo.. na'bayuang se're bori.
Manna
tanjari.. punna kaleleang mamo..
Ana'..
tinro mako naung.. Pakaselaki matannu..
Ambangungko
nai'.. Te'ne tommi pa'mai'nu.."
"Tidurlah
Anakku sayang.. lelapkanlah matamu..
Mata
yang mengantuk.. Bantalmupun telah merindukanmu..
Bila
nanti engkau dewasa.. menjadi kekasih seluruh alam..
walau
tak jadi.. asalkan sudah terbagi..
Tidurlah
anakku sayang.. Lelapkanlah matamu..
Bila
nanti engkau bangun.. bahagia sudah perasaanmu.."
Sya bangga sebagai suku Makassar, karena memiliki Royong
ReplyDeletekalau bangga seharusnya bisa melestarikan... bukannya melupakan dan malah lebih melestarikan budaya orang asing๐๐
Deletemakasih atas infonya, bisa tau tukang royong di daerah makassar bisa diliput dimana ya? makasih
ReplyDeletemakasih atas infonya, bisa tau tukang royong di daerah makassar bisa diliput dimana ya? makasih
ReplyDeletePernah belajar Royong, tapi ngak bisa-bisa. Tapi saya harap royong tetap eksis di Tanah Daeng sebagai salah satu pembentuk kepribadian anak
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
Delete