Autobiografi : Refleksi 18 Tahun

Aku terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Ruslan dan Mila Islamiyah di sebuah kota kecil jauh dari pusat kabupaten Gowa. Aku terlahir sekan memenuhi harapan ayah dan ibu yang selalu menantikan kehadiran sang anak yang dinantikan. Namaku Muh. Reza Zaputra, aku lahir di Limbung, pada tanggal 18 Juli 1999. Namaku panggilanku beragam, terkadang ada yang panggil aku Reza, ada yang panggil aku Eza, Eca, dan di dunia kepenulisan, aku dipanggil Muaz sebagai nama penaku.
Aku berdomisili di sebuah perkampungan kecil di yang menjadi patok perbatasan dengan kecamatan lain, yakni dusun Kokowa, desa Bori’matangkasa. Keluargaku sudah menetap di Kokowa selama 20 tahun. Meskipun tinggal di Bajeng Barat, pendidikanku mulai dari SD sampai SMA selalu di Bajeng.
Aku menamatkan pendidikan SD di sebuah sekolah dasar bernama SD INPRES Limbung. Umumnya anak yang lain bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Namun, hal tersebut tidak aku lakukan. Jadi, aku tidak memiliki ijazah TK. Alasan utama orang tua aku tidak menyekolahkan aku di TK karena beberapa tahun yang lalu, ijazah TK tidak menjadi syarat untuk masuk bersekolah di Sekolah dasar (SD).
Saat di sekolah dasar, aku terkenal sebagai anak yang berprestasi. Ada beberapa prestasi yang mengharumkan nama sekolahku di mana aku ikut berpartisipasi di dalamnya. Salah satunnya juara 2 pada lomba cerdas cermat tingkat kecamatan antar sekolah dasar di SD Limbung Putri. Saat itu, aku bertindak sebagai juru bicara.
Muh. Akbar Syam dan Satriani Kurnia Syam adalah teman kelompok yang aku temani berlomba untuk mengharumkan nama sekolah. Mereka berdua juga sangat cerdas, Akbar piawai di mata pelajaran IPA, Satriani untuk Matematika, sementara saya di bidang IPS. Pada saat itu, sangat bangga sekaligus terharu bisa membawa pulang sebuah piala yang dipersembahkan dan menambah penghargaan untuk sekolahku. Saat upacara, nama kami pun dipanggil sebagai bentuk simbolis sekolah kami menyerahkan penghargaan yang didapatkan kepada pihak sekolah.
Saat menjadi seorang siswa SD, tak jarang aku disuruh menjadi seorang pemimpin upacara. Saat itu aku masih kelas V, dan aku diajari dan dituntut untuk menjadi seorang pemimpin upacara. Hal utama yang membuat aku menjadi pemimpin upacara adalah karena aku dikenal oleh hampir seluruh guru yang mengajar di sekolahku. Saat pemilihan pemimpin upacara pun, seluruh teman-temanku mempercayai aku sebagai pemimpin upacara. Faktor lainnya karena aku tergolong siswa yang tinggi, bahkan kala itu aku menjadi siswa tertinggi di kelas.
Menjadi siswa Sekolah Dasar sangatlah menyenangkan. Hal utama yang membuat aku selalu mengingat masa SD adalah saat kelas I dan II. Saat itu, aku terkenal sebagai siswa yang sangat lambat dalam belajar. Prestasiku hanya sampai di peringkat 10 besar, masuk 3 besar hanya impian belaka yang tak pernah terwujud.
Belajar membaca adalah hal yang sangat sulit bagiku, apa lagi untuk menghitung. Sempat frustasi dan merasa ingin putus sekolah saat itu. Secerca motivasi itu pun datang menghampiri. Saat naik di kelas III, guruku sangatlah pemarah, bahkan suka memukul siswanya yang nakal. Aku termasuk di dalamnya, bahkan langganan. Salah satu pelanggaran yang pernah aku lakukan saat itu adalah menulis dengan kapur di pintu kelas tulisan-tulisan yang tidak senonoh. Aku dan beberapa teman yang lain pun dimarahi, bahkan dipukul oleh guru kami.
Aku tidak berani melapor ke orang tuaku, karena jika melapor, maka pasti hukumannya akan ditambah. Saat itu aku hanya merenungi diriku ini. Aku berpikir, mengapa aku bisa terlalu jauh melangkah untuk hal yang buruk. Mengapa aku tidak kembali ke koridor yang benar.
Lewat renungan tersebut, mulai ada perubahan dalam diriku. Dulunya yang sering dimarahi oleh guru, kini  berubah menjadi siswa yang disanjung oleh guru. Dulunya pendiam karena tidak tahu pelajaran, kini aktif bertanya maupun menjawab pertanyaan guru. Perubahan itu seakan menjadi revolusi dalam diriku ini. Hasilnya, saat kelas III aku mulai merangkak masuk ke peringkat 5 di semester pertama, dan peringkat 2 di semester kedua. Peringkat tersebut terus aku dapatkan hingga di kelas V.
Saat di kelas V, bisa dikatakan menjadi momen tersibuk. Saat itu harus belajar extra untuk kelas biasa dan juga untuk persiapan olimpiade Sains. Bidang yang aku ikuti adalah IPS.  Namun, sayang olimpiade bidang IPS tidak dimasukkan dalam list lomba. Saat itu, aku patah semangat, namun guruku saat itu yang bernama ibu Asmaul Husna menyarankan aku untuk masuk saja ke bidang IPA. Aku pun mengikuti sarannya.
Bidang yang tak sesuai harapan, membuat aku gagal masuk ke babak selanjutnya. Hanya Akbar dari sekolahku yang masuk ke babak selanjutnya. Namun, setelah lomba olimpiade tersebut ada lomba cerdas cermat di sebuah pesantren terkenal di Bajeng. Aku pun ikut berpartisipasi di dalamnya bersama kedua teman baiknya yang selalu menemaniku di setiap lomba.
Untuk lomba ini pun, kami masih gagal mendapatkan juara. Bahkan kami kalah di babak penyisihan. Untuk itu kami pulang ke sekola kami tanpa membawa piala satu pun. Cukup kecewa karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk sekolahku, namun kepala sekolah kami saat itu hanya memberikan kami motivasi untuk bisa lebih baik ke depannya. Motivasi tersebut terus kami ingat hingga pada lomba berikutnya kami bisa mendapatkan juara 2 dengan penyelenggara yang berbeda.
Hal yang juga menjadi kebanggaan tersendiri saat menjadi seorang siswa sekolah dasar saat menjadi siswa terbaik dalam Ulangan tengah semester. Saat itu, ada tantangan dari bapak kepala sekolah untuk mengumpulkan pin sebanyak mungkin. Pin tersebut didapatkan dari nilai tertinggi saat UTS. Jumlah pin yang aku dapatkan saat itu adalah 6 pin di antara 10 mata pelajaran.
Berjalan kaki dari rumah ke sekolah saat SD menjadi rutinitas yang harus kujalani. Dengan jarak yang cukup dekat, membuat aku harus terbiasa berjalan kaki ke sekolah atau pulang dari sekolah. Saat pulang, aku bisa merasakan berbagai pemandangan yang menakjubkan yang tidak bisa dijumpai di areal perkotaan. Hamparan sawah, aliran sungai, rindannya pepohonan hutan menjadi pencuci mata pelepas penat saat pulang sekolah. Saat pulang pun kami saling berbaur, tak mementingkan apakah dia kakak kelas, atau teman kelas, kami hanya saling akrab berbicara hingga sampai ke rumah kami masing-masing. Tak jarang, ada pula yang usil dengan beberapa teman, namun itulah warna-warni pertemanan kami.
Sebenanrya ada dua rutinitas belajar yang aku jalani saat masih menjadi seorang anak-anak. Pertama, belajar di sekolah sama seperti anak-anak pada umumnya, dan yang kedua adalah belajar Agama Islam di TK/TPA. Waktu istirahatku hanya cukup sedikit, karena sepulang sekolah tidur siang, dan jam 13.30 dilanjutkan dengan mengaji di masjid sampai setelah salat asar.
Saat wisuda santri pun, aku hanya cukup puas sebagai peringkat 5. Namun, peringkat tidak masalah bagiku. Terpenting dalam diri ini adalah bagaimana ilmu itu dapat direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Percuma, ilmu bertumpuk di otak, namun hasilnya hanya secetek.
Hal yang mengejutkan sekaligus membahagiakan saat pengumuman nilai UN tertinggi, syukulah aku berada di peringkat kedua di sekolahku. Sepertinya Akbar menjadi saingatn terberatku saat masih menjadi siswa sekolah dasar. Pertama kali aku mengalahkannya saat kelas VI semester pertama di mana aku merebut peringkatnya sebagai rangking 1. Betapa bahagianya orang tuaku saat itu melihat anaknya ini menjadi yang terbaik di antara 20 siswa.
Bajeng merupakan salah satu kecematan yang menyediakan berbagai sekolah yang masuk dalam sekolah terbaik di Gowa, salah satunya SMP Negeri 1 Bajeng yang masuk daftar 5 sekolah SMP terbaik di Gowa. Kebetulan jarak rumah ke sekolah tersbeut juga dekat, malah hanya beberapa meter dari sekolah dasarku. Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan pendidikanku di sekolah tersebut.
Guru yang pertama kali aku kenal di sekolah tersebut adalah Pak Suratman, namun sayang guru tersebut sekarang sudah Almarhum. Beliau adalah orang yang sangat baik kepadaku. Aku mengenalnya saat menjadi pengawas di ruangan tempat tes masuk SMP Negeri 1 Bajeng. Kebetulan saat tes, aku duduk pas di depannya. Saat ada soal yang kurang jelas, maka aku disuruh untuk membacakannya agar teman yang juga mengikuti tes bisa mengetahui dengan jelas bentuk soalnya.
Saat selesai tes pun, ternyata beliau masih mengingatku. Bahkan saat pengumuman kelulusan beliau menghampiriku dan berkata bahwa aku akan berada di kelas terbaik, yakni kelas VII A. Awalnya aku kurang percaya, namun kenyataanya benar. Saat pengumuman kelas, aku diumumkan berada di kelas VII A. Dalam benakku, aku merasa was-was karena akan banyak saingan karena kelas tersebut merupakan kumpulan orang-orang cerdas dari berbagai SD.
Menjadi siswa SMP aku jalani dengan sepenuh hati. Pada minggu pertama, aku selalu berharap bisa juga aktif dalam kelas. Entah apa yang membuatku begitu minder hingga aku terkadang tidak percaya diri. Biasanya ada pertanyaan guru yang bisa aku jawab, namun karena kurang percaya diri dan takut salah akhirnya aku tidak berani untuk menjawabnya. Pada semester pertama aku menjelma menjadi sosok yang pendiam dan misterius. Aku juga jarang bergaul dengan teman perempuanku.
Di dalam kelas VII A aku memiliki sahabat yang sangat akrab, pertama ada Khalil, Hajar, dan juga teman sebangku yakni Indra. Ketiga teman baikku itu semuanya pengurus OSIS, jadi kalau ada rapat OSIS biasanya aku merasa kesepian dalam kelas karena tidak ada teman yang bisa diajak akrab untuk mengobrol. Bisa juga dibilang kelasku merupakan pusat dari pengurus OSIS karena pengurus OSIS di kelasku ada banyak sekali. Aku sedikit bingung dengan sistem pemilihan pengurus OSIS di sekolah saya karena memakai sistem langsung menunjuk. Maksudnya para penyeleksi pengurus OSIS masuk dalam kelas kami dan bertanya siapa yang ingin masuk dalam pengurus OSIS tanpa mempertimbangkan kualitas orang-orang yang dipilih.
Sebenarnya aku kurang terbiasa dengan kondisi di mana dalam satu kelas ada banyak sekali siswa. Aku mempunyai teman kelas sebanyak 40 orang, jadi bisa dibayangkan betapa riuhnya kelas jika tidak ada guru yang mengajar. Aku juga masih satu kelas dengan Ana, Nani, Alif, dan Dila yang merupakan teman sekelas saat SMP.
SMP Negeri 1 Bajeng merupakan sekolah yang sangat peduli dengan bakat para siswanya, untuk itu ada yang namanya Pengembangan Diri setiap hari sabtu. Kegiatan tahun ini merupakan favorit para siswa, termasuk aku. Aku menyukai olahraga bulutangkis, oleh karena itu aku masuk dalam pengembangan diri bulutangkis.
Olahraga yang satu ini memang selalu menjadi favorit. Kami selalu bermain bulutangkis di aula SMP Negeri 1 Bajeng. Aula akan sangat penuh bila semua siswa yang memasuki pengembangan diri ini saling berkumpul dan mendapat nilai mingguan. Sebagai siswa dengan mood yang kadang naik turun, aku mempunyai strategi agar tidak terlalu lama bermain bulutangkis, namun tetap mendapat nilai. Sebenarnya, aku menykai pengembangan diri ini, namun yang paling tidak aku suka saat aula sesak, bahkan ada yang saling tabrakan saat menjangkau kok bulutangkis.
Aku pernah memasuki ekstrakulikuler pramuka saat masih menjadi siswa kelas VII. Namun, aku tak pernah konsisten dengan organisasi tersebut. terbukti, aku tiga kali keluar masuk organisasi tersebut. Alasan utamanya adalah tidak tahan dengan latihan yang sangat intensif. Jangan sampai mengorbankan akademik hanya karena organisasi.
Saat pengumuman rangking kelas, alangkah terkejutnya aku saat mendengar bahwa peringkatku keluar dari 10 besar. Ini bagiku hal yang sangat mengagetkan , karena selama itu aku tidak pernah mendapat peringkat kelas yang keluar dari 10 besar. Bukan hanya aku, keluarga besarku juga bertanya-tanya mengenai akademik aku hingga bisa mendapat peringkat seperti itu.
Naik ke kelas VII aku kian was-was, karena jangan sampai peringkatku sama seperti saat kelas sebelumnya. Di kelas VII aku kembali bersama dengan puluhan siswa cerdas yang sudah melalui tahap seleksi yang sangat ketat agar bisa duduk di kelas yang sangat difavoritkan oleh guru-guru, yakni kelas VIII A. Aku bersyukur ada di kelas tersebut, dan masih dapat bertemu dengan temanku saat di kelas VII.
Rasa sedih juga menyelimuti karena sebagian teman kami ada yang pindah ke kelas VIII B. Akibatnya, ada wajah baru yang kami lihat dari kelas lain. Namun, teman sebangkuku Indra masih tetap di kelas VIII A. Ini adalah teman baikku, karena sudah dua kelas selalu duduk sebangku.
Menjadi kelas favorit justru menjadi tanggung jawab tersendiri. Kami harus memperlihatkan hal yang baik kepada siswa dan kepada teman kami yang lain. Saat upacara pun kami selalu disinggung untuk bisa berperilaku baik dan menjadi contoh.
Di SMP Negeri 1 Bajeng, terdapat agenda mingguan yang mungkin tak hanya sekolah kami yang adakah, tetapi hampir seluruh sekolah di Kabupaten Gowa, yakni Jum’at Ibadah. Program ini menjadi program favorit sekali saat menjadi seorang siswa SMP. Setiap jum’at kami akan mendengarkan siraman kalbu Jum’at Ibadah yang tentunya dapat menambah pengetahuan agama kami.
Selain sibuk di sekolah, aku juga mulai sibuk membantu orang tua saya bekerja. Sebenarnya aku suka sekali, karena dapat bekerja sekaligus refresing di alam yang sejuk. Biasanya aku membantu menyiram sayuran dan membersihkan gulma. Hal ini tentunya sangatlah menyenangkan bagiku.
Pada semester III, para siswa kelas VIII pasti selalu sibuk dengan seleksi Olimpiade Sains Sekolah. Untuk seleksi ini aku turut ambil bagian di dalamnya. Aku juga mau berangkat olimpiade tingkat kabupaten. Mata pelajaran yang aku ambil adalah bidang studi IPS. Bidang studi ini kebanyakan adalah hafalan, karena bisa dibayangkan jika Feografi, Ekonomi, Sosiologi dan sejarah dicampur jadi satu dan harus dipelajari untuk olimpiade.
Hari demi hari aku mengikuti pembinaannya. Hingga diputuskan aku yang lolos mewakili bidang studi IPS. Perjuanganku tidaklah sia-sia yang tiap haru harus bolak dari rumah pak Badri ke rumahku yang jaraknya cukup jauh. Waktu kelas VIII pun sebenarnya aku melanggar aturan berkendara karena umurku masih 14 tahun.
Pak Badri merupakan guru IPS kelas IX dan merupakan guru yang sangat disiplin. Oleh karena itu, dia menjadi seorang pembina OSIS. Aku mendapat banyak sekali pelajaran semenjak mengenalnya lebih dekat lagi. Bahkan aku diberi buku IPS yang sangat bagus dan lengkap, dan sampai sekarang belum aku kembalikan.
Pada suatu hari, seluruh peserta seleksi Olimpiade Sains Sekolah dipanggil ke lab IPA. Aku hanya sendirian, karena untuk bidang IPS sudah diumumkan siapa yang mewakilinya. Namun, untuk bidang studi Biologi, Fisika, dan Matematika belum diumumkan siapa yang mewakili. Perasaan lain dari yang lain timbul dari dalam diriku. Kebetulan, kepala sekolahku, Pak Fajar Ma’ruf adalah seorang guru IPS. Jadi, merasa sedikit was-was bisa pak Fajar menanyai aku dengan pertanyaan yang belum aku pelajari.
Ketakutannku ternyata terjadi. Semua siswa menoleh ke arahku yang membuat jantungku kian berdenyut kencang. Pak Fajar bertanya mengenai pelajaran kelas VII yakni tenaga endogen dan eksogen. Syukurlah aku bisa menjawabnya, dan raut muka pak Fajar mengisyaratkan puas dengan jawabanku. Dia malah menambah pertanyaannya dengan pertanyaan yang lebih susah. Beliau bertanya tahun-tahun sejarah pada masa kolonialisme. Sebenarnya aku lupa dengan jawabannya, namun pembina Olimpiade Fisika memberikan aku clue yang membuat aku bisa menjawab pertanyaan dari Pak Fajar.
Hari penantian Olimpiade Sains Kabupaten pun tiba. Aku berangkat dengan menaiki mobil Pak Badri yang di dalamnya ada juga ibu Suriati Pembina Olimpiade Matematika dan ibu Sahariah Pembina olimpiade Fisika. Untuk Pembina Olimpiade Biologi tidak sempat datang karena ada halangan. Aku berangkat bersama teman 3 teman kelas saya sendiri, ada Eka, Uphy, dan Uni.
Sebelum berangkat, tradisi kelas kami para siswa VIII A selalu keluar kelas semua untuk memberikan semangat. Bukan hanya Olimpiade tingkat Kabupaten, namun untuk lomba lainnya. Ini adalah bentuk kekeluargaan kami yang selalu ditekankan oleh kakak kelas kami, guru bahkan pegawai Tata Usaha di sekolah kami.
Tempat pelaksanaan lomba adalah di SMP Negeri 1 Bajeng. Inii adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di sekolah tersebut. Sekolahnya luas dan gedungnya bertingkat. Saat sampai, ternyata kami sudah sangat terlambat. Di lapangan, para siswa yang lain sudah mendengar amanat dari pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa. Jadi, pembina kami menyuruh kami untuk cepat agar tidak terlambat mengikuti arahan pihak Dinas Pendidikan Gowa.
Naasnya, kami lupa membawa fotocopy buka rapor kami. Namun, untungnya pihak panitia memberikan kami kesempatan untuk mengumpulkannya di lain waktu. Tiba-tiba, tidak ada lagi penyampaian, aku kian khawatir, jangan sampai para peserta sudah mulai masuk dalam ruangan tes. Asumsiku salah, mereka semua masih berbaris rapi dengan jumlah yang sangat banyak. Mewakili puluhan sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Gowa.
Aku kebingungan dengan arahan pihak panitia, sehingga aku bertanya ke salah satu peserta yang lain yang ada di depanku. Dia pun memberikan penjelasan dengan baik. Dia juga mengajak aku berkenalan, namanya adalah Mahir Dani, dan dia berasal dari tetangga sekolahku, yakni SMP Negeri 1 Bajeng Barat.
Kami pun diarahkan memasuki ruangan dengan tertib dan ruangan untuk olimpiade IPS ada di pojok depan lantai dua dekat dengan parkiran. Sepanjang perjalanan aku masih sempat berbincang dengan Dani mengenai pelajaran yang sudah dipelajari.
Olimpiadenya pun selesai, kami satu tim pulang diantar oleh pembimbing kami masing-masing. Aku pun merasa lega karena satu amanah telah aku laksanakan. Aku hanya berharap hasilnya bisa sangat memuaskan. Namun, firasatku berkata lain. Aku merasa banyak jawaban aku yang salah karena banyak yang asal centang jawaban.
Naik di kelas IX aku mulai menjadi sosok yang percaya diri. Semua itu karena motivasi dari teman baikku terutama Indra. Dia merupakan sosok pemimpin yang sangat bagus dan bijak. Karena bijaknya itulah dia menjadi seorang ketua OSIS.
Di kelas X, tiba pula masa untuk mulai mengintensifkan belajar karena akan semakin dekat dengan UN. Matematika merupakan mata pelajaran yang menurutku yang paling sangat menarik untuk aku pelajari. Sementara IPA, aku merasa sangat tertinggal karena masih banyak materi yang belum aku kuasai. Untungnya, di kelasku banyak orang cerdas, jadi bisa memanfaatkannya untuk menyerap ilmu yang mereka miliki. Hal tersebut berhasil. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengerti pelajaran IPA dan mulai cepat dalam menyelesaikan soal-soal Ujian sesuai yang ada di buku penuntun UN.
Saat pengumuman UN pun, aku dinyatakan lulus Ujian Nasional. Aku sangat bersyukur mendengarnya. Nilai-nilai Unku pun rata-rata tinggi dan tidak ada di bawah 5,5. Begitu pula dengan seluruh teman angkatanku yang lulus 100%.
Sebelum UN sebenarnya ada lomba Science Competitions yang diadakan oleh SMA Negeri 1 Bajeng. Aku mengikutinya dan dinyatakan sebagai juara 3. Penghargaan yang diberikan sangat mengejutkan, yakni bebas tes masuk SMA Negeri 1 Bajeng. Aku sangat bahagia mendengarnya. Bahkan, keluarga besarku sangat bersyukur dan terharu karena aku bisa masuk di salah satu sekolah terbaik di Kabupaten Gowa yang terkenal dengan predikat Unggulan.
Masuk di sekolah tersebut, hanya berharap bisa meningkatkan prestasiku yang sebelumnya sangat rendah di SMP bisa menjadi meningkat di SMA. Hal tersebut terbukti karena pada semester pertama aku mendapat juara umum kelas. Ini menjadi buah sendiri dari usaha yang telah aku lakukan selama ini. Prestasiku kian meningkat di tingkat kelas sebagai peringkat pertama. 
Naik di kelas XI, aku sempat mengalami sibuk organisasi. Pada semester pertama, aku mengikuti olimpiade Sains Kabupaten bidang kebumian untuk kedua kalinya setelah pada kelas X gagal masuk ke tingkat prrovinsi dengan hanya puas pada peringkat 9. Namun, itu menjadi sebuah motivasi untuk lebih baik lagi ke depannya.
Sayang, untuk kedua kalianya aku masih tertahan di peringkat 9. Entah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Padahal, aku telah mengorbankan beberapa pelajaran yang tidak aku masuki hanya demi bisa lolos ke tingkat provinsi.
Naasnya lagi, peringkat kelasku menurun setelah salah satu siswa merebut peringkat satuku. Dia adalah Kurnia Isma. Sejak awal, dia menjadi saingatn terberatku saat duduk di kelas X IPA 6. Namun, peringkat 1 itu berhasil aku raih kembali di semester 2.
Menjadi siswa SMA tentunya sangat berbeda dengan siswa di SMP. Pada saat SMP, aku masih dilarang untuk keluar malam untuk mengerjakan tugas bersama teman, atau jika ada keesokan harinya di sekolahku ada acara.
Terbukti, sudah beberapa kali aku menginap di rumah temanku untuk mengerjakan tugas. Hal tersebut membuat aku mulai mengenal dunia yang sebenarnya. Selama ini, aku hanya menjadi anak rumahan yang terkekang dengan dunia luar. Berkat teman SMA, aku bisa merubah sifatku menjadi sosok yang Open Mind akan pranala luar.
Saat menjadi siswa akhir semester, aku merasa dilema. Satu sisi aku harus belajar untuk persiapan UN, sementara yang lain aku harus mengerjakan tugas yang sangat banyak dari guru. Terkadang tugas guru membuat aku pusing karena harus membuat makalah, mmebuat laporan, harus presentasi, dan lain sebagainya.
Namun, semua itu bisa aku lewati. Hasil dari usaha selama ini menempatkan aku sebagai juara umum 3 nilai UN tertinggi di SMA Negeri 1 Bajeng. Bonus dari usahaku juga adalah lolos SNMPTN Geofisika Unhas. Sekarang, aku akan tetap berjuang demi meraih cita-cita. Berkuliah menjadi jembatanku menuju kesuksesan yang gemeling demi harapan yang selalu aku impikan.



Related Posts:

5 Responses to "Autobiografi : Refleksi 18 Tahun"