Mengapa Hidup Ini Dipenuhi Pilihan?













Sumber gambar : http://ricky-nugraha-sartono.blogspot.co.id


Dunia ini bergerak dinamis dan terus berjalan menuju akhir. Orang-orang yang dulu kita kenal mulai meninggalkan kita satu persatu karena tuntutan usia. Di dunia ini, bagai orang yang sendiri menentukan arah kaki ini tuk melangkah ke arah yang benar. Terkadang hidup dipenuhi jutaan pilihan yang haruslah dipilih untuk hidup kita ini.
Hidup bukan hanya untuk hari ini, terdapat banyak sekali hari-hari yang akan datang siap menyumpai kita dengan berbagai warna yang berbeda. Tentunya di situlah peran kita untuk mengumpulkan warna-warna tersebut untuk hidup kita. Masa depan adalah masa yang penuh misteri. Terdapat banyak sekali tugas yang harus diselesaikan untuk bisa lanjut ke fase selanjutnya. Ibarat games, untuk maju ke babak selanjutnya harus melaksanakan misi atau mengumpulkan poin maksimal agar bisa melaju ke level 2.
Hari ke hari, tugas kita makin menumpuk, bukan hanya hari ini, tapi hari esok, lusa, merengek untuk diselesaikan. Tapi, sebagian dari kita memilih untuk diam dan bermanja akan dunia yang fanah ini. Akibatnya, hanya ada rasa takut dan kemalasan yang ada dalam hari hingga ajal menjemput. Tipe seperti ini haruslah ditinggalkan. Tuhan menciptakan otak agar kita bisa berpikir rasional untuk memikirkan apa yang diberikan.
Sekali lagi, itu adalah sebuah pilihan. Tentukan dari sekarang pilihan anda untuk bisa melaju ke fase selanjutnya. Intinya jangan mundur, apalagi stagnan dengan posisi anda sekarang. Jika anda siswa, semester 5 mungkin anda rangking 2 tapi anda harus membuat komitmen untuk bisa rangking 1 di semester selanjutnya. Jika anda calon mahasiswa, saat memasuki Universitas anda harus memilih puluhan jurusan yang bisa saja membuat anda bingung. Tapi, tentunya itu bagi orang yang tidak pernah menentukan pilihan mereka dari awal. Intinya adalah komitmen yang besar untuk menghadapi hal yang besar. Menurut Zig Ziglar, “Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena tidak mampu, tapi karena mereka tidak berkomitmen.”
Sebenarnya, saat masih dalam kandungan kita sudah mendapat pilihan. Dalam ajaran Islam, sebelum ruh di tiup kepada calon anak maka Allah akan bertanya kepada sang bayi apakah dia mampu beriman dan bertaqwa kepada Allah jika dia dilahirkan ke dunia, jika yam aka ruh tersebut akan ditiup, kalau tidak maka ruh tersebut tidak ditiup kepada sang calon bayi. Akibatnya, bayi tersebut meninggal saat dilahirkan.
Saat anak-anak kita disuguhkan lagi dengan berbagai pilihan. Misalnya memilih Sekolah dasar (SD) yang akan ditempati bersekolah, memilih teman yang baik, dsb. Begitu pula dengan fase remaja. Saat dewasa, tentu sudah banyak sekali pilihan yang harus kita pilih. Misalnya memilih pasangan hidup, memilih tempat bekerja, dsb. Setiap pilihan tentunya berdampak pada masa depan kita. Jika hari ini kita memilih pilihan yang salah, maka tentunya kita akan salah jalan bahkan tak tau arah jalan hidup kita. Sebagai contoh saat akan memasuki perguruan tinggi dan akan memilih Fakultas Kedokteran, maka dari itu kita harus memilih jurusan IPA dan menguasai pelajaran Biologi dan setidaknya pelajaran IPA yang lainnya.
Pilihan terkadang adalah sebuah misteri, tapi di situlah kedewasaan berpikir kita akan diuji sebagaimana kita menalarkan sesuatu yang berdampak besar dalam hidup kita. Pilihan adalah sebuah cerminan hidup. Jati diri seseorang diketahui dengan pilihannya. Jadi, jangan salah dalam memilih! Pikirkan dengan sangat matang pilihan yang akan kita tempuh. Tanya harimu yang terdalam, bila perlu bermunajab ke Sang Pencipta Yang Maha Agung.

Comments