Cerbung: My Heart In The palace Part VI

Bagian VI
Tersapu Oleh Perasaan Hujan
           
Bok Jung kembali sadar setelah kritis karena meminum racun. Sampingnya ada Pangeran besar Haeyang yang menggenggam tangannya sambil memberikan motivasi untuk bisa sembuh. Pangeran Haeyang juga ingin bertemu dengan wanita yang meracik penawar racun untuk Cok Jung. Tabib istana bingung mau menjawab apa, karena dia tak sempat berbicara dengan gadis tersebut. Sementara itu, Bok Jung juga tak tahu kalau yang meracik penawar racun itu adalah Eun Jeong.
“Dimana Eun Jeong?” tanya Bok Jung. Tabib tersebut langsung berkata, “Ya, Eun Jeong. Itu nama gadis yang meracik penawar racun untukmu. Apakah anda mengenalnya?” cetus tabib. Bok Jung serasa tak percaya dengan semua itu. Sahabatnya menjelma menjadi seorang peracik obat-obatan yang hebat sekaligus menyelamatkan nyawanya.
“Apakah kau tahu dimana rumahnya?” Pangeran Besar Haeyang. “Tidak Yang Mulia, dia baru muncul setelah 5 tahun menghilang.” Jawab Bok Jung. Pangeran Besar Haeyang pun keluar dari bilik Bok Jung dan memerintahkan pasukannya mencari gadis yang bernama Eun Jeong karena Pangeran akan memberinya hadiah atas jasanya.
Di rumah guru Choi, Eun Jeong memperlihatkan obat yang ditaruh seorang dayang dalam tes milik Bok Jung hingga membuatnya keracunan. Guru Choi merasa tercengang dengan mata yang sedikit melotot. Dia lalu bergegas mengambil sebuah buku dan meminta buku rahasia Maljola yang ada pada Eun Jeong. Eun Jeong dan In Bahn menatap guru Choi dengan heran. Mereka bertanya-tanya tapi tak digubris sedikit pun oleh guru Choi.
“Ini dia, ini adalah sebuah racun yang terdapat pada duri landak yang dihaluskan lalu dibekukan. Saya tahu siapa dalang dari semua ini,” cakap guru Choi dengan penuh misteri. “Yu Ja Gwang!” sambungnya.
Eun Jeong merasa tidak percaya dengan semua yang dikatakan guru Choi, “Jadi, biarpun telah diberi penawar, efeknya akan tetap terasa?” tanya Eun Jeong. “Iya, kamu benar!” jawab guru Choi. Eun Jeong merasa terpukul dengan apa yang terjadi. Dia merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan untuk mengobati sahabatnya.
“Kamu harus masuk istana dan menjadi seorang perawat sekaligus peracik obat-obatan!” tandas guru Choi. Eun Jeong menolaknya karena istana adalah tempat yang sangat berbahaya karena di dalamnya terdapat banyak sekali darah yang bercucuran sia-sia. Guru Choi tetap saja meyakinkan Eun Jeong, tapi tetap saja dia tak mau untuk memasuki istana. In Bahn juga berpihak kepada Eun Jeong, karena bagi In Bahn, Eun Jeong sudah seperti adiknya sendiri yang akan selalu ia lindungi.
Orang suruhan Ja Gwang sedang mengawasi Pangeran Deokwon dan Wol Gin. Ja gwang menyuruh memisahkan mereka karena dia tak ingin anaknya terus-terusan dekat dengan pangeran Deokwon, yang seharusnya dekat dengan Pangeran Besar Haeyang. Untuk itu, Ja Gwang berencana menculik Pangeran Deokwon. Dengan gesitnya, orang suruhan tersebut mendekati mereka berdua yang sedang bercanda gurau di sebuah gazebo. Orang suruhan tersebut langsung menutup hidung mereka berdua dengan sebuah kain hingga sesak bernafas dan akhirnya tak sadarkan diri.
Setelah mereka tak sadarkan diri, Wol Gin dibawa kembali ke rumahnya, sementara Pangeran Deokwon ditelantarkan di sebuah hutan yang tak jauh dari rumah guru Choi. Keadaannya sangat miris, banyak luka gores di beberapa bagian tubuhnya karena terlempar jauh ke dalam jurang.
Wol Gin telah sadar, dia langsung menjerit memanggil nama Pangeran Deokwon. Ja Gwang langsung menampar anaknya sendiri dan membentaknya dengan penuh amarah. “Aku sudah menyuruhmu untuk dekat dengan Pangeran Besar haeyang agar kamu bisa menjadi seorang selirnya, tapi kenapa kamu memilih adiknya?”
Wol Gin tak mau menjawabnya, malah dia tetap menjerit memanggil nama Pangeran Deokwon. “Tidak, tidak, aku akan menikah dengannya. Dia sendiri yang mengatakan itu. Ayah,” sambil berlutut di depan ayahnya, “Tolong, aku sangat mencintainya. Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku sudah memperjuangkan cintaku ini selama 5 tahun dan hari ini aku dilamar olehnya.” Sambungnya.
Ja Gwang tak mengubrisnya, dia hanya menghempas Wol Gin dan menyuruh pembantunya untuk dibawa ke kamarnya dan tidak diperkenankan keluar rumah sebelum Wol Gin menyesali perbuatannya. Ja Gwang kian marah, dia takut ambisinya takkan bisa tercapai dengan adanya pangeran Deokwon yang ingin menikahi Wol Gin. Dia lalu menyuruh orang suruhannya lagi untuk kembali ke tempat dimana dia membuang Pangeran Deokwon dan membunuhnya.
In Bahn sedang keluar rumah dan tak sengaja menemukan Pangeran Deokwon. Dia tertegun melihat keadaan Pangeran Deokwon dan langsung membawanya ke rumah guru Choi. Tak lama kemudian, datang orang suruhan Ja Gwang yang ingin membunuh Pangeran Deokwon. In Bahn melihatnya mereka, dia lalu berasumsi bahwa mereka ingin mencelakai pemuda yang dia tolong itu. Dia langsng bergegas pergi aagar tidak dilihat oleh orang suruhan tersebut.
Bok Jung dan Pangeran Besar Haeyang sedang mengobrol bersama sambil meminum teh di bilik Bok Jung. Mereka sangatlah hangat dan saling bertukar pikiran satu sama lain. Bahkan Pangeran besar Haeyang mengungkapkan kekhawatirannya saat bok Jung keracunan saat meminum the. Pangeran Besar Haeyang berjanji akan menemukan orang yang telah meracuninya.
Tiba-tiba, Bok Jung merasa sangat pusing. Pangeran Besar Haeyang menyuruh Bok Jung untuk segera berbaring dan tidur. Bok Jung ingin Pangeran Besar Haeyang tetap di sampingnya sampai dia terlelap. Kian malam, Pangeran Besar Haeyang tetap memagang tangannya hingga tak sadar dia juga tertidur. Untungnya datang kasim Soe dan menyuruh Pangeran Besar Haeyang untuk kembali ke kamarnya. Tapi, Pangeran Besar Haeyang menolak dan ingin menemani Bok Jung tidur.
Guru Choi dan In Bahn masih mengobati luka dari Pangeran Deokwon. Lalu, datang Eun Jeong yang baru tiba dari mencari bahan makanan. Eun Jeong karena melihat In bahn dan Guru Choi sedang mengobati seseorang. Dia melihat wajah dari orang tersebut, lalu dia teringat Pangeran Deokwon dulu yang selalu memberinya buku yang bagus. Bahkan, dia juga melihat baju yang dikenakannya mirip dengan model baju yang dikenakan Pangeran Deokwon dulu. Dia senyum-senyum sendiri saat teringat Pangeran Deokwon pernah menyebutnya sebagai calon istri saat akan masuk ke Perpustakaan.
 Guru Choi menghancurkan khayalan Eun Jeong dan menyuruh Eun Jeong untuk mengambil pembersih luka dan pemati rasa. Eun Jeong segera melaksanakan perintah guru Choi. Mereka bertiga segera membersihkan luka Pangeran Deokwon dan menghentikan pendarahan di kepalanya karena terbentur di sebuah pohon.
“Tidak, aku takkan merestuimu menikah dengan Pangeran Deokwon. Kamu harus menjadi seorang selir, bukannya seorang istri pangeran!” bentak Ja Gwang kepada Wol Gin. Wol Gin kian mengelak untuk tidak bisa jauh dari Pangeran Deokwon karena baginya Pangeran Deokwon adalah cinta pertamanya. Amarah Ja gwang kian memuncak dan menampar Wol Gin. Wol Gin tergeletak di lantai sambil memegang pipinya dan kemerahan dan kesakitan sambil manatap sinis ayahnya.
In Bahn, dan guru Choi sedang mengobrol di dekat Pangeran Deokwon. Karena keasyikan ngobrol, sehingga membangunkan Pangeran Deokwon. Dia pun segera duduk dari tempat berbaringnya. Sambil memegang kepalanya yang masih kesakitan, dia melihat seseorang yang nampaknya dia kenal. Dia langsung menyebut namanya, “Guru Choi!” guru Choi kaget karena dia mengetahui namanya. “Ini aku Pangeran Deokwon!” cetus Pangeran Deokwon sambil berdiri dan memegang tangan guru Choi. “Apa anda masih mengingat saya?” sambungnya dan membuat guru Choi mengangguk.
Guru Choi lalu memanggil Eun Jeong, “Eun Jeong!” sontak karena mendengar nama itu Pangeran Deokwon lalu teringat akan seseorang. Sosok Eun Jeong lalu muncul, betapa terpananya Pangeran Deokwon melihat paras Eun jeong yang kian menawan setelah 5 tahun tak bertemu. Dia lalu menghampiri Eun Jeong walaupun tubuhnya masih kesakitan dan karena terlalu gesit, dia menjatuhkan gelas yang dibawa Eun Jeong.
“Maaf, aku tidak sengaja,” kata Pangeran Deokwon. Eun Jeong lalu memungut pecahan gelas yang jatuh. Pangeran Deokwon serasa dibawa ke masa lalunya saat pertama kali melihat Eun Jeong di perpustakaan. Setelah Eun jeong berdiri, Pangeran Deokwon langsung memeluknya dengan sangat erat. Eun Jeong kian linglung dengan tingkah Pangeran Deokwon. Tak sengaja, Pangeran Deokwon berlinan air mata kebahagian.
Pangeran Deokwon lalu melepaskan pelukannya, “Apa kamu tidak mengenalku? Apa kamu tidak rindu padaku, mengapa kamu pergi begitu saja tanpa memberitahuku?” Eun Jeong lalu menerka siapa yang ada di depannya. “Kamu… Seo Dang?” tebak Eun Jeong. Pangeran Deokwon dibuat terkekeh, “Ini aku, Pangeran Deokwon!” lantas mendengar nama itu, Eun Jeong juga ikut-ikutan menangis dan memeluk Pangeran Deokwon. Guru Choi juga merasa terharu melihat pertemuan mereka kembali.
Pangeran Deokwon masih belum pulih tapi dia ingin berbicara berdua dengan Eun Jeong di luar dan merasakan angin malam. Mereka berdua pun keluar rumah berdua dan menatap dari atas bukit dan mlihat seisi Hanyang di malam suntuk. Dari kejauhan, Nampak istana yang mulai gelap yang hanya diterangi oleh puluhan api yang sebagai pelita.
Pangeran Deokwon seakan mempunyai banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan tapi dia tak tahu yang mana yang akan duluan ia tanyakan. Tapi, intinya pertanyaan terbesarnya adalah mengenai kepergian Eun Jeong ke Ming tanpa sepengetahuan siapa pun bahkan di malam hari. Eun Jeong bersikukuh untuk tidak memberitahukan alasan di balik kepergiannya ke Ming, tapi Eun Jeong berjanji kalau sudah tiba waktunya dia akan memberitahu Pangeran Deokwon.
Malam itu seakan dipenuhi oleh nostalgia, mereka kembali mengingat kenangan mereka bersama saat masih menjadi seorang remaja. Suasana tiba-tiba hening seketika Pangeran Deokwon mengingatkan Eun Jeong saat di perpustakaan dan dia menyebut Eun Jeong calon istinya. Pangeran Deokwon tertawa dengan sangat keras, sementara Eun jeong termenung sedih. Pangeran Deokwon sekejab menghentikan tertawanya dan bertanya mengenai raut muka Eun Jeong yang tak Nampak bahagia.
Lama-kelamaan, Pangeran deokwon juga teringat janjinya kepada Wol Gin untuk menikahinya. Dia sekarang dilanda dilema berat, karena orang yang disangka takkan kembali kini ada di hadapannya. Pangeran Deokwon merasa kebingungan apa yang harus dikatakan kepada Wol Gin yang sudah lama menunggu dia untuk melamarnya. Bahkan, saat pertemuan pertama mereka, Wol Gin sudah mencintainya.
Selir Geun menuju ke bilik Pangeran besar Haeyang dan menanyakan keberadaan Pangeran Deokwon. “Pangeran Besar, apakah anda melihat Pangeran Deokwon? Tadi malam dia tak pulang ke istana?” tanya Selir Geun dengan sangat gelisah. “Tidak, aku tidak melihatnya,” jawab pangeran Besar Haeyang. Pangeran besar Haeyang lalu menenangkan Selir Geun, dan berjanji akan menemukan Pangeran Deokwon segera.
Di dalam bilik yang dirundung pilu, Wol Gin menatap jendela luar dan terkena cahaya rembulan. Dia merasa rindu dengan pangeran Deokwon. Hal yang sama juga dilakukan Pangeran Deokwon dan Eun Jeong yang menatap rembulan. Wol Gin merasa sangat terguncang dengan perkataan ayahnya yang menyuruhnya menjadi selir demi ambisinya semata. Padahal, dia sangat mencintai Pangeran Deokwon.
Pangeran Besar Haeyang dan Bok Jung sedang jalan-jalan berdua di taman istana. Mereka sangat menikmati hari-hari dimana mereka berdua setelah Bok Jung dilanda sakit akhirnya bisa juga sembuh. Betapa indah pertemuan mereka, hingga para dayang dan kasim milik Pangeran Besar Haeyang tersenyum melihat mereka berdua bersama. “Mereka adalah pasangan yang sangat serasi,” seru kasim Soe.
Perasaan tidak enak badan datang kepada Bok Jung. Tiba-tiba tubuhnya lemas, untuk itu Pangeran Besar Haeyang berteriak memanggil para kasim dan dayangnya untuk membantu membawa Bok Jung ke biliknya. Pangeran Besar Haeyang kian khawatir karena dia merasa bok Jung telah sembuh, mengapa dia bisa sakit kembali.
Mereka sudah ada di bilik Bok Jung, tabib memeriksa denyut nadi Bok Jung. Pangeran Besar Haeyang merasa sangat takut bila tabib mengatakan bahwa penyakit Bok Jung kambuh lagi. Di luar dugaannya, setelah memeriksa ternyata ada kabar gembira untuknya. “Selamat Yang Mulia Pangeran, Permaisuri anda sedang hamil,” kata Tabib sekaligus membungkuk member selamat. Dayang yang berada seisi ruangan juga membungkuk memberi selamat. Pangeran besar Haeyang sangat sumringah, karena dia akan segera menjadi seorang ayah. Dia langsung mencium kening Bok Jung dan menggenggam tangannya, “Terima kasih, terima kasih Bok Jung! Seolah-olah kamu telah memberikan aku kebahagian terbesar.”
Berita kehamilan Bok Jung tersebar seisi istana. Ayah Bok Jung, Han Chil Woon datang memberi selamat sekaligus melihat keadaan Bok Jung. Saat masih dalam perjalanan, dia bertemu dengan Perdana Menteri Min Su yang juga member selamat kepadanya, “Istana akan semakin indah, karena sebentar lagi akan mendengar suara tangisan bayi,” Chil Woon berterima kasih atas ucapan selamat yang diberikan Perdana Menteri Min Su.
 In Bahn dan Eun Jeong sedang berada di pasar. Tak sengaja mereka mendengar percakapan para pedagang mengenai berita kehamilan Bok Jung yang membuat negeri ini seakan sedang dalam masa yang sangat indah. Eun Jeong merasa sangat takut, karena tubuh Bok Jung yang lemah bisa saja membahayakan kesehatan bayi dari Bok Jung. In Bahn menenangkan Eun Jeong, tapi tetap saja Eun Jeong tak bisa tenang.
Pangeran Deokwon yang mendengar berita kehamilan dari Bok Jung juga datang berkunjung ke bilik Bok Jung. Ternyata di dalam ada Pangeran Besar Haeyang yang menemani Bok Jung berbaring. Karena Pangeran Deokwon datang, Bok Jung memutuskan untuk duduk. Pertama, pangeran Deokwon membungkuk memberi selamat.
Bok Jung lalu ingin mengatakan sesuatu kepada Pangeran Deokwon, “Apa kamu ingat teman masa kecil kita, Eun Jeong? Ternyata dia yang membuatkan aku penawar racun, dan dia menyelamatkan nyawaku,” Pangeran Deokwon dibuat kaget, karena ternyata Eun Jeong sudah masuk ke istana. “Tadi malam aku bertemu dengannya,” cetus Pangeran Deokwon. “Bisakah kamu membawanya ke istana untuk menjadi perawat pribadiku?” sambung Bok Jung. Pangeran Deokwon dibuat bingung, tapi dia mengusahakan untuk bisa membawanya ke dalam istana.
Guru Choi sedang berdiskusi dengan Eun Jeong. Guru Choi menyuruh Eun Jeong untuk segera masuk ke istana. “Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan dua hal. Kamu bisa merawat Bok Jung, dan tentunya kamu bisa mengungkap kebusukan Ja Gwang.” Tandas guru Choi. Eun Jeong merasa sangat bingung dan entah apa yang harus dia lakukan. In Bahn meyakinkannya dan menyuruhnya ikut perintah guru Choi. Akhirnya Eun Jeong mengiyakannya dan bersedia masuk ke dalam istana untuk merawat temannya.
Yu Ja gwang dan para pengikutnya berkumpul di rumahnya membahas mengenai kehamilan Bok Jung yang bisa saja merugikan mereka. Jika Bok Jung melahirkan seorang putra, maka bisa saja kelak dia akan menjadi raja. Tentunya, Ja Gwang tak ingin hal tersebut terjadi. “Ja Gwang, anda jangan khawatir. Racun yang dia minum dulu memiliki efek yang luar biasa. Jadi, bisa saja kelahiran bayinya akan gagal,” kata Seong Hae.
Ja Gwang lalu memerintahkan para suruhannya untuk tetap mencari buku Rahasia Maljola. Karena dalam buku tersebut, banyak strategi dalam diterapkan oleh kelompok Ja Gwang untuk meraih ambisinya.
Pertemuan tersebut berakhir, saat yang lain akan keluar, tiba-tiba masuk Wol Gin yang mendesak ayahnya untuk menikahkannya dengan Pangeran Deokwon. Tetap saja Ja gwang bersihkeras dan tak mau menikahkannya karena dapat menghalangi ambisinya. Menteri Perpajakan mendengar percakapan mereka dan menuju ke Ja Gwang dan membisikinya sesuatu. Wol Gin penasaran dengan bisikan tersebut yang dapat membuat Ja Gwang tersenyum puas seakan mendapat ide yang luar biasa.
Dalam sekejab, Ja gwang berubah pemikirannya. Dia lalu mengizinkan anak perempuan satu-satunya itu untuk menikah dengan Pangeran Deokwon. “Suruh Pangeran Deokwon untuk datang ke sini, aku ingin membicarakan sesuatu dengannya!” seru Wol Gin yang sedikit sumringah mendengar ucapan ayahnya.
Pangeran Deokwon diam-diam datang ke rumah guru Choi untuk menjemput Eun Jeong untuk datang ke istana sebagai perawat Bok Jung. Dengan langkah yang seikit malu, dia menggenggam tangan Pangeran Deokwon dan mereka berjalan berdua menyusuri lebatnya hutan, sungai yang mengalir tidak terlalu deras dan juga kerumunan orang di pasar.
Hal yang tak terduga saat mereka berdua melewati pasar, tak sengaja Wol Gin melihat mereka berdua. Api cemburu membakar hatinya. Sekelebat kemudian dia berpikir mengenal gadis yang bersama dengan Pangeran Deokwon, “Ya, dia adalah gadis yang lari saat aku mau menolongnya di dermaga,” gumamnya.
Dia ingin menghampiri Pangeran Deokwon, tapi melihat kedekatan mereka dia lalu bersasumsi bahwa mereka memiliki hubungan yang tak biasa. “Ini tidak mungkin, Pangeran, anda telah berjanji untuk menikahiku.” Gumamnya lagi dan langsung lari tanpa memerhatikan orang di depannya sambil menangis.
Mereka berdua akhirnya sampai di istana, mereka berdua pun masuk dan berjalan menuju ke pavilium Bok Jung. Setelah sampai, dayang pribadi Bok Jung mengumumkan kedatangan mereka. Bok Jung pun mempersilahkan mereka masuk. Alangkah kagetnya Pangeran besar Haeyang melihat orang yang dibawa pangeran Deokwon adalah orang yang menolongnya dulu. Dia lalu bangkit dari duduknya, dan kembali tertegun melihat Eun Jeong. Perhatiannya tak luput dari genggaman tangan mereka yang seakan tak mau lepas.
Pangeran Besar Haeyang sedikit cemburu melihat mereka. Untuk itu, dia sengaja berdiri dan menarik tangan Eun Jeong dan membawanya di dekat Bok Jung. Bahkan untuk duduk di samping Eun Jeong mereka harus berebut tempat. Eun Jeong hanya tersipu malu, begitu pula dengan Bok Jung yang sangat bahagian melihat tingkah kekanak-kanakan mereka. “Selamat yang Mulia atas kehamilan anda!” kata Eun Jeong.
Pangeran Besar Haeyang penasaran dengan bagaimana Eun Jeong dan Pangeran Deokwon bisa bertemu dan saling akrab. Pangeran Besar Haeyang pun mengajak pangeran Deokwon untuk keluar dari kamar Bok Jung. Pangeran Deokwon pun berpamitan kepada Eun Jeong. Lagi-lagi, Pangeran Besar Haeyang merasa sedikit cemburu.
“Mereka itu tidak berubah, sejak pertama masuk ke istana mereka selalu saja berdebat untuk hal-hal yang sangat sepele. Kadang aku dibuat sumringah melihat kedekatan mereka. Kamu tahu, Pangeran Deokwon sudah seperti orang gila keluar masuk istana hanya untuk mencarimu. Bahkan, tiap tahun dia datang ke dermaga untuk mencarimu. Eun Jeong, ke manakah kau selama ini?” tutur Bok Jung.
“Maafkan aku Yang Mulia, aku tak bisa menyampaikannya sekarang. Saat tiba waktunya, aku akan menyampaikannya kepada anda,” jawab Eun Jeong. “Bagaimana kabar anda hari ini, rupanya kabar kehamilan anda membuat anda sangat bahagia dan tak berhenti untuk menebar senyum. Bahkan Pangeran besar Haeyang selalu ada di dekat anda. Betapa besar rasa cintanya Pangeran Besar Haeyang kepada anda.” Sambungnya.
Bok Jung menghela nafas, “Entahlah Eun Jeong. Kamu tahu, aku bukanlah cinta sejatinya. Ada lagi seorang gadis yang berasal dari marga kita yang juga ia cintai. Setiap malam, dia selalu menyebut Nona Han dalam tidurnya. Entah siapa Nona Han yang dia maksud.” Ucap Bok Jung dengan nada putus asa. Eun Jeong meyakinkannya, “Tidak, Yang Mulia sangat mencintai anda. Anak yang akan lahir ini akan menjadi buah cinta kalian yang sangat indah.”
Di luar bilik Bok Jung, Pangeran Besar Haeyang dan Pangeran Deokwon sedang mengobrol hal yang sedikit serius. Pangeran Besar Haeyang menanyakan awal pertemuan pertama mereka. “Kami pertama kali bertemu di perpustakaan Negara yang ada di luar istana. Saat itu dia menunggu seorang tuan muda yang menjanjikannya akan masuk ke Perpustakaan Negara. Bahkan dia pergi ke perpustakaan Negara selama seminggu dan selama seminggu itu pula dia menunggu,” tutur Pangeran Deokwon dengan raut muka yang sedikit sedih mengingat semua itu.
Sontak saja membuat Pangeran Besar Haeyang teringat akan janjinya dulu kepada seorang gadis saat mereka masih remaja. “Apakah dia gadis yang pernah aku beri janji dulu?” katanya dalam hati sambil memegang pundak Pangeran Deokwon, jadinya Pangeran Deokwon dibuat kebingunan. Malah Pangeran besar Haeyang malah langsung lari ke bilik Bok Jung.
“Ternyata namanya adalah Eun Jeong, yah Eun Jeong. Maafkan aku saat aku tak mengenalmu saat di hutan. Maafkan saat dulu aku tak mengenalmu,” katanya dalam hati sambil berlari dengan terberit-berit.             “Kali ini aku takkan berbohong lagi kepadamu, aku akan tepati janjiku dulu. Yah, aku akan memberimu buku terbaik di Joseon.”
Pangeran besar Haeyang pun masuk ke dalam bilik Bok Jung dan mencari keberadaan Eun Jeong. Dia terus saja memanggil nama Eun Jeong, tapi Bok Jung mengatakan dia sedang keluar mengambil ramuan untuknya. Pangeran Besar Haeyang pun langsung lari menyusul Eun Jeong. Di depan klinik kerajaan, dari kejauhan Pangeran Besar Haeyang langsung memanggil namanya, “Eun Jeong! Han Eun Jeong!”
Eun Jeong langsung berbalik karena dipanggil oleh Pangeran Besar Haeyang. Sekelebat kemudian, dia langsung memeluknya dengan sangat erat. Dia mendapatkan kerinduaannya selama ini. “Ini benar kamu kan? Ini kamu kan, Eun Jeong. Maafkan aku, saat aku tidak menepati janjiku dulu, ini aku Yi Kwang,” dari perkataan Pangeran besar Haeyang tersebut membuat Eun jeong teringat kembali akan masa lalunya. Tapi, karena terlanjur sakit hati, dia lalu mencabut dirinya dari pelukannya. “Maaf, aku tidak mengenal anda. Pertemuan pertama kita hanya di sebuah gubuk di tengah hutan. Aku tidak pernah menerima janji dari manapun saat aku masih kecil. Maafkan aku.”

Eun Jeong lalu pergi begitu saja, tapi keyakinan Pangeran Besar Haeyang akan dirinya kian kuat tapi dia heran kenapa Eun Jeong tak mengakuinya. Ternyata, kejadian yang terjadi, saat mereka berpelukan dilihat oleh Ratu Jeonghui dan Pangeran Deokwon. Ratu Jeonghui mulai berspekulasi bahwa apakah dia sosok Nona Han yang dimaksud Pangeran Besar haeyang selama ini. Sementara itu, Pangeran Deokwon pergi begitu saja dengan sakit hati.

Related Posts:

0 Response to "Cerbung: My Heart In The palace Part VI"

Post a Comment